Jawaban Terhadap Beberapa Keraguan (1)

Dengan keterangan-keterangan tersebut itu sudah jelas bahwa segala i’tiqad dan kepercayaan Ahmadiyah itu benar, karena berdasarkan kepada Al-Quranul-Majid dan Hadits-hadits Nabi S.a.w., maka segala pengakuan dan kepercayaan yang berlawanan dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad S.a.w. itu bukan pengakuan dan kepercayaan Ahmadiyah.

Ahmad Dahlan pernah mengemukakan tiga pertanyaan kepada Maulana Iyaz:

1. Bagaimanakah i’tiqad Qadiyani terhadap Allah Ta’ala, Muhammad S.a.w. dan Al-Quranul-Karim?

2. Siapakah yang semulia-mulia makhluq Allah?

3. Kepada siapa wahyu akan diturunkan sesudah Nabi Muhammad S.a.w. dan bagaimana kepercayaan Qadiyani kepada Al-Masih, Al-Mahdi dan Mirza Ghulam Ahmad?

Maka, Maulana Iyaz telah menjawab begini:

Jawaban pertama: Ahmadiyah beri’tiqad bahwa Allah itu Esa, tiada sekutu dengan seorang pun pada Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, af’al-Nya (perbuatan-Nya) dan Muhammad S.a.w. itu Nabi dan Rasul dan Khaatamun-Nabiyyin, tiada Nabi dan Rasul (yang membawa syari’at baru) sesudahnya dan Al-Quranul-Karim itu Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.a.w. bukan perkataan yang diada-adakan oleh manusia”

Jawaban kedua: Berkenaan dengan pertanyaan yang kedua Maulana Ghulam Husain Iyaz berkata: “Muhammad S.a.w. itu ialah semulia-mulia makhluq dan tidak ada seorangpun yang lebih mulia daripadanya”.

Jawaban ketiga: Berkenaan ada wahyu atau tidaknya sesudah Nabi Muhammad S.a.w. itu Maulana Ghulam Husain Iyaz menjawab: “Wahyu (yang mengandung syari’at baru) itu tiada turun kepada siapa jua sesudah nabi Muhammad S.a.w.. Adapun wahyu (yang tidak mengandung syari’at baru) itu diturunkan kepada orang lain sesudah Nabi Muhammad S.a.w.”.

Jawaban-jawaban yang diberikan oleh Maulana Iyaz itu cukup untuk memuaskan hati orang-orang yang jujur, dan dengan jawaban-jawaban yang pendek ini mereka yang belum mengenal Ahmadiyah itu dapat mengetahui kepercayaan dan i’tiqadnya.

Apa jawaban Ahmad Dahlan terhadap keterangan yang pendek tetapi tepat ini? Bacalah apa katanya: “Pengakuan yang telah tuan zhahirkan ini berlainan dengan pengakuan atau keterangan yang menjadi i’tiqad Qadiyani yang batin” (Musang Berbulu Ayam, hal.6)” Perkataan Ahmad Dahlan ini menunjukkan bahwa dia tidak berani menyalahi keterangan-keterangan yang telah dikemukakan oleh Maulana Iyaz, maka oleh karena itulah dia mencari jalan lari dan menuduh Ahmadiyah mempunyai dua macam i’tiqad:

1. I’tiqad yang benar yang dijelaskan oleh Maulana Iyaz dan

2. I’tiqad yang tidak benar yang disebutkan oleh Ahmadiyah katanya.

Maka untuk membantah utusan Ahmadiyah ia menuduh Ahmadiyah lebih dahulu dengan beberapa tuduhan, kemudian ia sendiri pula yang menentangnya. Padahal Ahmadiyah tidak beri’tiqad dengan apa pun yang diada-adakan Ahmad Dahlan itu.

Pembaca yang budiman! Sekarang marilah kitamemperhatikan keterangan-keterangan Ahmad Dahlan itu. Ia berkata bahwa Hadhrat Ahmad a.s. sudah menyebutkan wahyunya tentang Al-Quran itu begini:

“Bahwasanya Al-Quran itu Kitab Allah dan perkataanperkataan yang keluar dari mulutku” (Mirza).

Inilah alasannya untuk membantah keterangan-keterangan Maulana Iyaz yang nyata itu. Adapun yang menjadi musykil baginya di sini ialah siapakah yang dituju dengan kata “mulutku”. Allah atau Hadhrat Ahmada.s.? Dia mengira bahwa kata itu ditujukan kepada Hadhrat Ahmada.s., Jika begitu ilham itu menunjukkan bahwa Al-Quran itu keluar dari mulut beliau.

Saudara-saudara yang terhormat! Adapun susunan bahasa Arab itu bukanlah seperti susunan bahasa-bahasa lain, karena bahasa itu sangat luas dan undang-undangnya pun sangat luas pula, jika kita hendak menyamakan susunannya itu dengan susunan bahasa-bahasa lain maka sudah pasti kita akan keliru, saya kemukakan lima contoh ayat Al-Quran saja di sini, silakan tuan-tuan memperhatikan:

Pertama: Firman Allah S.w.t.:

“Inilah ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan benar, wahai Muhammad!” (QS. Al-Baqarah, 2:253)

Kata “Kami” dalam ayat tersebut ditujukan kepada siapa? Berlainankah dengan perkataan “Allah”? Jika berlainan, ditujukan kepada siapa kata “Kami” itu?

Kedua: Firman Allah S.w.t.:

“Mereka itu telah mendustakan ayat-ayat Kami, maka Allah telah mengazab mereka karena dosa-dosa mereka” (QS. Ali-Imran, 3:12).

Perhatikanlah kata “Kami” dan kata “Allah”! berlainankah tujuan kedua kalimah itu? Tidak, sekali-kali tidak!

Ketiga: Firman Allah S.w.t.:

“Demikianlah Kami (Allah) membalas orang yang berlebihlebihan dan tidak beriman kepada ayat-ayat Tuhan-nya” (QS. Tha Ha, 20:128).

Siapakah yang dimaksud dengan kata “Kami” dan dengan kata “Tuhannya”? Berlainankah? Jika berlainan, cobalah tunjukkan siapakah yang membalas orang-orang yang berlebih-lebihan itu pada hari Qiamat?

Keempat: Firman Allah S.w.t.:

“Dia juga yang telah menurunkan air dari awan sesuai dengan kadarnya, maka “Kami” hidupkan dengannya tanah yang sudah kering” (QS. Az-Zuhruf, 43:12)

Silakan perhatikan ayat ini! Kalau kita hendak membahasakan susunannya menurut susunannya Bahasa kita betapa susahnya nanti? Karena kata “Allah” dan kata “Kami” itu mempunyai satu maksud.

Kelima: Firman Allah S.w.t.:

“Orang-orang yang telah mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya mereka itu sudah putus harapan dari rahmat-Ku” (QS. Al-Ankabut, 29:24)

Siapakah yang dimaksudkan dengan kata “Aku” kalau bukan Tuhan? Cobalah perhatikan! Bukankah susunan wahyu Hadhrat Ahmad itu sama dengan susunan ayat satu, empat dan lima? Sudah jelas bahwa maksud kata-kata “Aku” itu Hadhrat Ahmad sendiri pun tidak mengapa karena Al-Quranul-Majid itu ditafsirkan oleh banyak ulama dan jika kita membaca Tafsir-tafsir mereka itu maka kita akan yakin bahwa tafsir sebagian ayat itu bukanlah tujuan ayat yang sebenarnya, bahkan semata-mata rekaan penafsir itu saja.

Maka dengan wahyu ini Allah sudah menyuruh Hadhrat Ahmad supaya menyatakan kepada manusia bahwa Al-Quranul-Majid Kitab Allah yang suci dan tafsirnya yang sebenarnya ialah dijelaskan oleh beliau itu di masa sekarang. Adapun turunnya Al-Quranul-Majid kepada Nabi MuhammadS.a.w. dan keluarnya dari mulut beliau itu sudah dipercayai oleh Hadhrat Ahmad sendiri. Dengan jelas beliau
menulis:

“Adapun Al-Quran itu tidak mengandung keraguan apa-apa di dalamnya dan inilah yang telah diturunkan dengan sebenarbenarnya kepada Nabi kita Muhammad shallallãhu ‘alaihi wa sallam dan sudah keluar dari mulut beliau itu, adakah kamu ragu-ragu dalam hal ini?” (Al-Khuthbah Al-Ilhamiyah, hal. 94)

Pendek kata, keterangan Ahmad Dahlan itu menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui cara orang-orang Arab itu bercakapcakap dan ia tidak juga memperhatikan Al-Quran yang mengandung berpuluh-puluh ayat yang susunannya sama dengan susunan wahyu Hadhrat Ahmada.s. itu, jika sekiranya ia sudah mengetahuinya, berarti sudah pasti ia tidak berlaku jujur dalam hal ini.

“Jika engkau tidak tahu, maka itu suatu musibah (ujian) dan jika engkau tahu, maka musibah (ujian) itu lebih besar lagi.”

Ahmad Dahlan membantah lagi keterangan Maulana Iyaz, katanya: “Pengakuan tuan berkenaan dengan keesaan Allah itu adalah dusta, karena berlawanan dengan perkataan Mirza yang mengatakan dirinya sebagai “Anak Allah” di dalam kitabnya AlBusyra, hal. 4 yang arti Firman Allah kepadanya: “Dengarlah , wahai anak-Ku Mirza!” (Musang Berbulu Ayam, hal. 6).

Dalam keterangan ini Ahmad Dahlan berdusta dengan nyata:

1. Katanya bahwa Al-Busyra itu kitab Hadhrat Ahmad a.s. padahal AlBusyra bukan kitab beliaua.s.. Apa gunanya berdusta? Apa dengan kedustaannya itu Ahmad Dahlan akan mendapat rahmat dari
Tuhan?

2. Pengakuan Hadhrat Ahmada.s. yang disebutkannya itu tidak benar, karena ilham yang menjadi dasar bagi keterangan itu tidak benar karena ilham yang jadi dasar bagi keterangan itu tidak langsung. Menurut keterangan penyusun Al-Busyra satu ilham sesudah dipungut dari Al-Maktubatul-Ahmadiyah, Juz I, hal. 23, bunyinya “Asma’u wa ara” artinya “Aku mendengar dan melihat”. Kata Allah jadi sudah nyata, yaitu bahwa pengakuan itu salah tulis, maka perkataan “Wa ara” itu sudah tertulis “Waladiy” dan kekeliruan itu sudah dibetulkan oleh penyusunnya, sehingga hal itu disiarkan dalam surat kabar harian “Al-Fadhal” tahun 9 bilangan 96 bahwa kalimat yang sebenarnya dalam ilham itu ialah “Wa ara” bukan “Waladiy” yang artinya anak-Ku.

Maka tidak syak lagi bahwa tidak ada ilham Allah “Asma’u waladiy” kepada beliau, yang ada ialah “Asma’u wa ara” Jadi, keterangan Ahmad Dahlan itu dusta semata-mata. Hadhrat Ahmad a.s. sendiri bersabda: 

“Allah itu Esa, kekal, berdiri dengan Dzat-Nya, Dia tidak beranak dan tidak pula mempunyai sekutu dengan siapapun”

Dan ini jugalah kepercayaan Ahmadiyah.


Comments